Kamis, 03 Desember 2009

Setelah mengancam bakal memblokir Google untuk mengakses konten-konten berita milik imperium medianya, News Corp, Rupert Murdoch kabarnya juga telah melakukan pembicaraan dengan Microsoft demi memuluskan rencananya itu.
 Menurut situs Financial Times, News Corp dan Microsoft kini tengah berdiskusi menjajaki rencana mereka menghilangkan indeks link berita-berita milik News Corp di mesin telusur Google, untuk mendapat bayaran ketika dimunculkan di mesin pencari milik Microsoft: Bing.
Pertemuan ini sendiri diprakarsai oleh News Corp, setelah mengetahui bahwa Microsoft sedang mendekati beberapa publisher online besar, agar mereka menghilangkan indeks link-link mereka dari Google.
Salah satu publisher website yang didekati Microsoft, mengatakan bahwa Microsoft menawarkan sebuah opsi di mana Microsoft bisa memberikan 'harga yang tinggi' bila mereka bersedia untuk mengindekskan link-link konten mereka ke Yahoo. "Ini dilakukan Yahoo untuk memotong margin Google," kata sumber publisher itu kepada Financial Times
Dalam hal ini, baik News Corp maupun Microsoft memang menemukan musuh bersama mereka, yakni Google. Rupert Murdoch, Chairman News Corp, telah mengungkap niatnya mencari cara untuk mencegah Google 'mencuri berita' yang dipublikasikan di medianya.
Sementara Microsoft, selama ini juga sudah hampir frustrasi mencari cara mengejar ketertinggalan mesin pencarinya dari Google.
Setelah menghabiskan sekitar lima tahun dan rugi jutaan dolar, Chief Executive Steve Ballmer meluncurkan mesin pencari Bing Juli lalu, sebagai salah satu ambisi barunya menjadi saingan serius Google dalam hal mesin pencari.
Selain itu, model bisnis baru yang ditawarkan Microsoft, merupakan kabar baik bagi industri media cetak, yang hingga kini masih belum menemukan model bisnis online yang bisa diandalkan, di tengah terus menurunnya keuntungan iklan dan percetakan mereka.
Sementara Matt Brittin, Director Google Inggris, malah sempat mengatakan bahwa tak begitu membutuhkan konten berita untuk bertahan hidup. "Secara ekonomis, berita bukan bagian besar dari cara kami mendapatkan keuntungan," kata Matt kepada Society of Editors Conference.

Google Akan Batasi Konten Berita



Google kini bakal membatasi akses pembaca kepada konten berita. Langkah ini ditempuh sebagai respon dari beberapa perusahaan media yang merasa bahwa raksasa internet itu mengambil keuntungan dengan mengindeks konten berita mereka.
Google akan menyediakan mekanisme di mana para publisher atau pembuat konten bisa menetapkan jumlah limit berapa kali artikelnya bisa dibaca secara gratis melalui mesin telusur Google.
Melalui mekanisme yang dinamakan program First Click Free, pembuat konten bisa membatasi akses pembaca bukan pelanggan, terhadap konten berita berlangganan mereka. Pembaca yang mengklik berita lebih dari lima artikel dalam sehari, akan segera diarahkan ke laman registrasi pembayaran atau berlangganan.
“Sebelum ini, setiap klik dari pembaca bisa dinikmati secara gratis,” kata Josh Cohen, Senior Business Product Manager Google dalam blog perusahaan, dikutip dari BBC. “Pengguna Google akan mulai menemukan halaman registrasi ketika mereka mengeklik keenam kalinya dalam sehari, di situs web yang mengikuti program baru Google itu,” ucapnya.
Pengumuman Google ini merupakan respon dari Google menyikapi sewotnya raja media Rupert Murdoch, yang menuduh Google 'mencuri' konten-konten berita milik perusahaan miliknya, News Corp.
Pasalnya, sebelum ini beberapa pembaca memang mampu mengakses halaman berita berlangganan dari beberapa media, karena Google menyediakan link bypass, sehingga pembaca tak perlu berlangganan lagi untuk membacanya.
Ini merupakan langkah penting dari Google, yang awalnya terkesan tak begitu peduli dengan keresahan Murdoch, sehingga Murdoch berencana memblokir Google dan menggandeng Microsoft dengan mesin pencari anyarnya, Bing.
Belakangan, Rupert Murdoch juga Koran dan surat kabar memang mulai mencari cara baru untuk menghasilkan uang melalui konten online, seiring dengan merosotnya sirkulasi dan keuntungan dari pengiklan.

Apa sih OSx86 atau yang lebih sering disebut Hackintosh? Bagaimana istilah tersebut bisa muncul?

OSx86--asal kata dari OS X dan x86--adalah proyek kolaborasi hacking untuk menjalankan sistem operasi komputer Mac OS X pada PC non-Apple yang memiliki prosesor dengan arsitektur x86.

Geliat Hackintosh mulai terasa pada Juni 2005, saat WDC (Worldwide Developers Conference) Apple mengumumkan penggunaan prosesor Intel, menggantikan PowerPC yang selama ini menjadi otak komputer buatan mereka.

Pada Januari 2006, Apple meluncurkan sistem operasi Mac OS X 10.4.4 pada iMac dan MacBook Pro. Keduanya adalah mesin Apple generasi pertama yang menggunakan prosesor Intel.

Tepat sebulan kemudian, pada 14 Februari 2006, sebuah Mac OS X v10.4.4 dengan tambahan istilah Hack muncul dan ditampilkan di internet oleh seorang programer yang bernama Jonathan Black.

Seakan berlomba antara Apple dan para Hackintosher. Tiap kali Apple merilis update, dalam waktu dua minggu versi patchnya juga rilis di internet.

Sampai pada saat Leopard dirilis, semakin banyak orang ataupun tim OSx86 developer yang merilis DVD installer (distro). Beragam distro dengan nama sandinya. Sebut saja Kalyway, iATKOS, Leo4All, Zephroth, iDeneb, XxX, iPC dan JaS. Installer ini semakin memudahkan orang untuk menginstal Hackintosh.

Perkembangan distro pun semakin memudar saat Snow Leopard dirilis. Distro ditinggalkan saat munculnya alternatif instal dengan menggunakan DVD retail dari rilis asli Apple dengan menggunakan bootable CD yang dinamakan Boot-123.

Sampai saat ini, Hackintash masih berada pada wilayah abu-abu. Pihak Apple Software Licence belum mengizinkan OS X di-instal pada komputer di luar produk Apple. Namun saat ini perkembangan Hackintosh makin pesat. Lihat saja di forum-forum dan dimilis. Jumlah anggotanya semakin membludak. Tak hanya itu, posting tentang update pun kian cepat.

Rabu, 02 Desember 2009


Bisa jadi ini merupakan mimpi buruk bagi Apple dan penggemarnya. Pasalnya, hanya dalam tempo sebulan memulai debut, penjualan Windows 7 telah mampu mengungguli sistem operasi Apple, Mac OS X.

Seperti kita ketahui, Windows 7 belum lama melenggang di pasaran. Kendati baru seumur jagung, sepak terjang OS besutan Microsoft ini cukup memukau. Dari minggu ke minggu pangsa pasarnya terus mengalami peningkatan.

Hal ini terbaca dari data yang dikeluarkan vendor internet metrics, Net Applications. Perlahan tapi pasti Windows 7 mengejar pasar Mac OS X. Minggu pertama setelah peluncurannya, Windows 7 menguasai 2,7% pasar sistem operasi dunia, kemudian mulai merangkak naik di minggu kedua menjadi 3,3 persen, dan terus merayap menjadi 3,7 persen di minggu ke-3.

Geliat Windows 7 kian terasa di minggu ke-4, dengan meraih sekitar 4 persen pangsa pasar, dan selama dua hari dalam minggu terakhir bulan November ini, rata-rata pangsa pasar Windows 7 adalah 5,07 persen alias lebih tinggi daripada pasar Mac OS X Apple periode 15-21 November, yakni sebesar 5 persen.

"Rasanya tidak salah mengatakan bahwa puncak daily share Windows 7 mengungguli weekly share Mac," ujar Vince Vizzaccaro, Executive Vice President di Net Applications. Namun, Vizzaccaro juga menyebutkan bahwa mereka belum mengumpulkan rata-rata daily share Mac OS X sebagai data pembanding yang lebih nyata dengan Windows 7.

Secara keseluruhan, seperti dikutip detikINET dari PCWorld, Senin (30/11/2009), pangsa pasar Windows untuk periode 15-21 November adalah 92,64 persen, lebih tinggi dari pangsa pasarnya selama bulan Oktober yakni 92,52 persen.


Backbone telekomunikasi Palapa Ring bertujuan untuk memacu pengembangan layanan infocomm untuk menunjang perekonomian Kawasan Timur Indonesia (KTI). Selain itu juga diharapkan mampu mengurangi kesenjangan digital (digital divide), terutama di kota-kota kecil yang tersebar di berbagai pulau.

Harapan tersebut diungkapkan Rinaldi Firmansyah, Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia, pada keterangan resminya, 2 Desember 2009.

“Backbone ini juga diharapkan akan meningkatkan jumlah titik akses ke jaringan pita lebar,” kata Rinaldi. “Dengan demikian dapat mendukung peluang persaingan dan prospek bisnis di wilayah-wilayah Indonesia, antara lain menyediakan fasilitas  komunikasi yang lebih efisien, aman dan berdaya jangkau luas bagi sektor publik maupun pemerintahan,” ucapnya.

Adapun prospek yang dituju Telkom untuk fasilitas komunikasi ini mencakup militer, polisi, meteorologi, pencegahan krisis, pelanggan korporat, dan rumah tangga serta keperluan lainnya.

Selain Mataram-Kupang Cable System, Telkom juga telah dan terus melakukan pembangungan backbone serat optik dan infrastruktur internet protocol (IP). Pembangunan yang sudah selesai dan sedang dibangun adalah sebagai berikut:

Selesai dibangun:
- Backbone  Padang – Bengkulu   914  km
- Backbone  Kalimantan – Sulawesi  5.445 km
- IP network (IP core, tera-router dan Metro-E) dengan 921 node di 10 kota, yaitu Batam, Jakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Pekanbaru, Semarang, Bandung, Makassar dan Banjarmasin
- Softswitch  Jakarta dengan kapasitas 172.000 satuan sambungan layanan (SSL).

Sedang dibangun:
- JaKa2LaDeMa, jaringan serat optik bawah laut sepanjang 1.665 km yang menghubungkan Jawa Timur – Denpasar – Mataram - Kalimantan – Sulawesi dengan kapasitas hingga 320 GB - pengembangan awalnya 20 GB - yang akan selesai pada pertengahan 2010
- Satelit TELKOM-3 dengan kapasitas 42 transponder aktif, atau setara dengan 49 transponder @36Mhz, yang akan diluncurkan pertengahan 2011
- Jaringan Serat Optik Banda Aceh – Medan (Jalur Barat) melalui Meulaboh sepanjang 780 km dengan kapasitas akhir 1,6 terabit dan kapasitas awal 70GB dengan rencana ready for service per 1 April 2010.

“Terintergasinya infrastruktur optic fiber dalam kerangka Telkom Super Highway yang dilengkapi dengan dibangunnya  jaringan akses di berbagai daerah, antara lain MSAN (Multi Service Access Network),  GPON (Gigabit Passive Optical Network) dan softswitch yang akan membentuk NG-NBN. Sehingga dimungkinkan tersedianya layanan broadband dengan kecepatan tinggi dengan kualitas dan harga yang kompetitif,” ucap Rinaldi.

TBG Akan Bangun 800 Menara BTS Baru


Dengan bermodalkan Capex (capital expenditur) sekitar 600 sampai 800 miliar rupiah, di tahun 2010 mendatang Tower Bersama Group (TBG) akan melakukan ekspansi.

“Kurang lebih 200 miliar rupiah akan dialokasikan untuk pengembangan bisnis bersama ACME, mitra baru kami dalam penyediaan perangkat penunjang infrastruktur telekomunikasi,” kata Helmy Yusman Santoso
Chief Financial Officer di sela jumpa pers di Jakarta, 2 Desember 2009.

“Sisanya, sekitar 500 - 700 miliar rupiah untuk pembangunan 700 hingga 800 unit tower baru,” ucap Helmy.

Perlu diketahui, kata Helmy, sejauh ini infrastruktur TBG telah menjangkau pulau Jawa, Sumatera, Batam, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. “Dalam waktu dekat, kami akan mulai ekspansi di Kawasan Timur Indonesia, yang dimulai dari Nusa Tenggara Barat terlebih dulu,” ucapnya.

Helmy menyebutkan, di Kawasan Indonesia Timur, pihaknya akan mengikuti kebutuhan pasar dan operator selular. “Jika ditemui adanya indikasi meningkatnya permintaan, kami akan barengi dengan ekspansi jaringan yang agresif,” ucapnya.

Berbicara tentang pendapatan, hingga akhir tahun ini, TBG optimis dapat membukukan 320 miliar rupiah. “Melihat adanya tren penghematan energi ke depannya, di tahun 2010, kami mengincar pertumbuhan pendapatan hingga 30 persen, menjadi sekitar 416 miliar rupiah,” ucap Helmy. • VIVAnews

Sebuah grup yang terdiri dari 6 perusahaan termasuk Google mengumumkan kepada publik rencana untuk membangun jaringan kabel serat optik dibawah laut.

Tujuan pembangunan ini adalah untuk memungkinkan perusahaan mengirimkan data dalam jumlah besar ke seluruh dunia dengan biaya lebih murah. Perusahaan konsorsium akan menyiapkan lima pasang kabel yang kelak dapat ditingkatkan menjadi delapan.

Setiap pasang kabel dapat mengantarkan data 960 Gbps - atau setara dengan 15 juta sambungan telpon pada saat yang bersamaan.

Sistem kabel trans-Pasifik, yang diberi nama Unity, akan dibentangkan sejauh 6200 mil dan diperkirakan menelan biaya sekitar $300 juta. Kabel tersebut memungkinkan Los Angeles dan kota pantai barat lainnya untuk berhubungan dengan kota di Jepang, Chikura.

Jaringan kabel telpon trans-Pasifik yang menghubungkan AS dan Jepang sudah berada di Chikura. Ia berharap bahwa negara Asia lainnya juga dapat terhubung dari akses point di Chikura.

"Sistem kabel Unity memungkinkan anggota konsorsium untuk meningkatkan kapasitas yang dibutuhkan sehubungan dengan peningkatan penggunaan aplikasi dan layanan online," kata pembicara dari Unity, Jayne Stowell.

Selain Google, perusahaan telekomunikasi Sing Tel dan Bharti Airtel yang terletak di Singapura dan India akan bekerja dengan Pacnet, perusahaan asal China yang menjadi spesialis serat optik bawah laut. Google merupakan satu-satunya anggota konsorsium yang tidak memiliki latar belakang telekomunikasi.

Permintaan akan sistem kabel trans-Pasifik terus meningkat sejak 2002, dan diperkirakan akan terus meningkat dari 2008 hingga 2013.

;;